::
Sensus Badak Jawa Tahun 2008
Tuesday, 09 December 2008 00:00
Admin TNUK
Seabad Perlindungan Badak Jawa
Badak bercula satu atau badak jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah satwa liar yang tersisa hidup dari zaman prasejarah dan dianggap menuju kepunahan dari muka bumi. Pandangan ini disebabkan karena sampai sekarang tiada satupun individunya yang nyata hidup ditempat atau hutan lain, selain di hutan ujung barat paling barat Pulau Jawa. Itulah tangguhnya badak jawa, apalagi jika mengenang betapa hutan Semenanjung Ujung Kulon ini pernah hancur diterpa tsunami terbesar di dunia pada tahun 1883. Bahkan jenis satwa ini dikenal toleran, bila melihat bertambahnya jumlah binatang mamalia besar lain, seperti banteng, rusa, babi hutan, yang juga hidup tergantung pada habitat disana.
Luas hutan Ujung Kulon yang potensial sebagai habitat badak jawa sekitar 38.000 hektar, tetapi kondisinya sekarang telah berubah dalam kepadatan keragaman hayati, baik hutan serta populasi jenis-jenis satwa. Penutupan vegetasi diatas kawasan menuju klimaks, setelah suksesi hutan tanpa gangguan sejak kehancuran akibat tsunami. Tetapi ada jenis tumbuhan, yaitu langkap (Arenga obtusifolia) yang cukup menekan pertumbuhan jenis-jenis tanaman pakan badak. Nampak lebih mengganggu kehidupan badak jawa adalah meningkatnya ukuran populasi dari setiap jenis satwa. Tekanannya terhadap keleluasaan ruang gerak badak serta ketersediaan jumlah tanaman pakannya, yang keduanya itu merupakan faktor penting bagi perjuangan hidupnya.
Ketahanan hidup badak jawa juga sedang teruji. Para ahli biologi menyatakan bahwa banyak faktor yang bisa mengganggu kematian badak di Ujung Kulon, mulai dari kemungkinan penurunan genetis, gangguan penularan penyakit, sampai dengan perubahan iklim. Kekuatiran terhadap faktor-faktor kematian dan ketidak-pastian tersebut kini masih dalam pembahasan dan perdebatan. Sejumlah badak yang hidup soliter dan terbatas ruang habitatnya dapat membuat sering pertemuan antar individu dalam keturunan. Perkawinan satu keturunan akan melemahkan genetis dan akan menurunkan daya kehidupan badak. Upaya untuk menanggulangi kelemahan tersebut diperlukan pembangunan habitat dan populasi kedua, dengan mengambil beberapa individu badak dan ditempatkan pada habitat tertentu yang sesuai dengan kebutuhan kehidupannya. Upaya studi pembangunan populasi badak kedua sedang berlanjut pada beberapa habitat, yang dianggap memenuhi persyaratan.
Sebenarnya juga usaha tersebut diatas dimaksudkan untuk menghindari bahaya-bahaya sedang mengancam kehidupannya, seperti gangguan penularan penyakit dari hewan-hewan ternak yang dipelihara masyarakat sekitar Ujung Kulon, disamping untuk mencegah gangguan perubahan vegetasi akibat global warming yang bisa terjadi. Bagi kita sekalian, pemikiran dan usaha para pihak untuk kelestarian badak jawa di dunia ini perlu kita hargai untuk kepentingan semua, terutama keberlanjutan fungsi lingkungan hidup serta kesejahteraan masyarakat kini dan masa mendatang.
Sensus badak jawa di Ujung Kulon merupakan kegiatan tahunan yang monumental. Kegiatan sensus telah dilakukan sejak tahun 1967, dan penampilan hasil sangat mencengangkan. Dua dekade setelah sensus pertama, jumlah populasi badak meningkat dua kali lipat, dari 25 ekor tercatat menjadi sekitar 45 ekor. Lambatnya pertumbuhan populasi karena masa reproduksi badak hanya sekitar 4 – 6 tahun sekali. Kiranya itulah untuk badak jawa yang memang salah satu satwa purba, berbeda dengan satwa-satwa mamalia besar lainnya yang dapat beranak-pinak lebih cepat. Dengan demikian tidak mengherankan jika, dalam tahun-tahun hingga sekarang ukuran populasi berkisar 50 individu, selain karena habitatnya hanya di Ujung Kulon. Dengan demikian menjadi pertanyaan bagi kita sekalian, apakah ukuran populasi masih tetap dalam kisaran lima puluhan dalam satu dekade terakhir ini ?
Kegiatan sensus tahun ini direncanakan akan dilakukan pada tanggal 10-17 Desember 2008 dengan melibatkan 100 orang yang terdiri dari petugas Balai TN. Ujung Kulon, Yayasan Badak Indonesia, WWF, Ujung Kulon Conservation Society, warga masyarakat sekitar TN Ujung Kulon, unsur Kecamatan Sumur, TNI dan Kepolisian, serta Perguruan Tinggi (IPB, UGM, UNTIRTA, dan Universitas Mathla’ul Anwar). Technical meeting dan pelepasan tim sensus dilakukan di Sumur. Sensus menggunakan metode”track count with strip method” yakni menaksir besar populasi badak berdasarkan perhitungan jejak atau tapak kaki yang ditemukan di jalur transek permanen yang telah tercatat titik koordinatnya. Lokasi penempatan jalur/transek ditetapkan berdasarkan data penyebaran/home range badak-badak, hasil monitoring bulanan tim perlindungan badak di Ujung Kulon. Dengan menggunakan dasar, bahwa jarak antar transek 2 km, maka akan ada 15 transek yang tembus dari Selatan ke Utara, yang secara konsisten akan dilakukan oleh 15 tim sensus. Tim sensus berjalan menyusuri transek masing-masing dan mengukur serta mencatat arah jejak yang ditemukan.
Diharapkan dengan konsistensi metode yang digunakan dalam sensus tahunan ini, maka data trend populasi untuk waktu yang akan datang dapat diperoleh. Setelah selesai analisa data akan dilakukan ekspose mengenai evaluasi lengkap oleh para ahli biologi dan matematik, untuk menentukan pola dan metode sensus pada tahun-tahun mendatang, disamping strategi penyelamatannya. Kiranya tahun ini boleh dikatakan waktu yang tepat, karena tahun 2008 ini adalah seabad kebangkitan nasional, serta juga seabad perlindungan badak jawa, dimana tahun 1908 adalah tahun diumumkannya bahwa badak jawa sebagai satwa liar dilindungi.
Badak bercula satu atau badak jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah satwa liar yang tersisa hidup dari zaman prasejarah dan dianggap menuju kepunahan dari muka bumi. Pandangan ini disebabkan karena sampai sekarang tiada satupun individunya yang nyata hidup ditempat atau hutan lain, selain di hutan ujung barat paling barat Pulau Jawa. Itulah tangguhnya badak jawa, apalagi jika mengenang betapa hutan Semenanjung Ujung Kulon ini pernah hancur diterpa tsunami terbesar di dunia pada tahun 1883. Bahkan jenis satwa ini dikenal toleran, bila melihat bertambahnya jumlah binatang mamalia besar lain, seperti banteng, rusa, babi hutan, yang juga hidup tergantung pada habitat disana.
Luas hutan Ujung Kulon yang potensial sebagai habitat badak jawa sekitar 38.000 hektar, tetapi kondisinya sekarang telah berubah dalam kepadatan keragaman hayati, baik hutan serta populasi jenis-jenis satwa. Penutupan vegetasi diatas kawasan menuju klimaks, setelah suksesi hutan tanpa gangguan sejak kehancuran akibat tsunami. Tetapi ada jenis tumbuhan, yaitu langkap (Arenga obtusifolia) yang cukup menekan pertumbuhan jenis-jenis tanaman pakan badak. Nampak lebih mengganggu kehidupan badak jawa adalah meningkatnya ukuran populasi dari setiap jenis satwa. Tekanannya terhadap keleluasaan ruang gerak badak serta ketersediaan jumlah tanaman pakannya, yang keduanya itu merupakan faktor penting bagi perjuangan hidupnya.
Ketahanan hidup badak jawa juga sedang teruji. Para ahli biologi menyatakan bahwa banyak faktor yang bisa mengganggu kematian badak di Ujung Kulon, mulai dari kemungkinan penurunan genetis, gangguan penularan penyakit, sampai dengan perubahan iklim. Kekuatiran terhadap faktor-faktor kematian dan ketidak-pastian tersebut kini masih dalam pembahasan dan perdebatan. Sejumlah badak yang hidup soliter dan terbatas ruang habitatnya dapat membuat sering pertemuan antar individu dalam keturunan. Perkawinan satu keturunan akan melemahkan genetis dan akan menurunkan daya kehidupan badak. Upaya untuk menanggulangi kelemahan tersebut diperlukan pembangunan habitat dan populasi kedua, dengan mengambil beberapa individu badak dan ditempatkan pada habitat tertentu yang sesuai dengan kebutuhan kehidupannya. Upaya studi pembangunan populasi badak kedua sedang berlanjut pada beberapa habitat, yang dianggap memenuhi persyaratan.
Sebenarnya juga usaha tersebut diatas dimaksudkan untuk menghindari bahaya-bahaya sedang mengancam kehidupannya, seperti gangguan penularan penyakit dari hewan-hewan ternak yang dipelihara masyarakat sekitar Ujung Kulon, disamping untuk mencegah gangguan perubahan vegetasi akibat global warming yang bisa terjadi. Bagi kita sekalian, pemikiran dan usaha para pihak untuk kelestarian badak jawa di dunia ini perlu kita hargai untuk kepentingan semua, terutama keberlanjutan fungsi lingkungan hidup serta kesejahteraan masyarakat kini dan masa mendatang.
Sensus badak jawa di Ujung Kulon merupakan kegiatan tahunan yang monumental. Kegiatan sensus telah dilakukan sejak tahun 1967, dan penampilan hasil sangat mencengangkan. Dua dekade setelah sensus pertama, jumlah populasi badak meningkat dua kali lipat, dari 25 ekor tercatat menjadi sekitar 45 ekor. Lambatnya pertumbuhan populasi karena masa reproduksi badak hanya sekitar 4 – 6 tahun sekali. Kiranya itulah untuk badak jawa yang memang salah satu satwa purba, berbeda dengan satwa-satwa mamalia besar lainnya yang dapat beranak-pinak lebih cepat. Dengan demikian tidak mengherankan jika, dalam tahun-tahun hingga sekarang ukuran populasi berkisar 50 individu, selain karena habitatnya hanya di Ujung Kulon. Dengan demikian menjadi pertanyaan bagi kita sekalian, apakah ukuran populasi masih tetap dalam kisaran lima puluhan dalam satu dekade terakhir ini ?
Kegiatan sensus tahun ini direncanakan akan dilakukan pada tanggal 10-17 Desember 2008 dengan melibatkan 100 orang yang terdiri dari petugas Balai TN. Ujung Kulon, Yayasan Badak Indonesia, WWF, Ujung Kulon Conservation Society, warga masyarakat sekitar TN Ujung Kulon, unsur Kecamatan Sumur, TNI dan Kepolisian, serta Perguruan Tinggi (IPB, UGM, UNTIRTA, dan Universitas Mathla’ul Anwar). Technical meeting dan pelepasan tim sensus dilakukan di Sumur. Sensus menggunakan metode”track count with strip method” yakni menaksir besar populasi badak berdasarkan perhitungan jejak atau tapak kaki yang ditemukan di jalur transek permanen yang telah tercatat titik koordinatnya. Lokasi penempatan jalur/transek ditetapkan berdasarkan data penyebaran/home range badak-badak, hasil monitoring bulanan tim perlindungan badak di Ujung Kulon. Dengan menggunakan dasar, bahwa jarak antar transek 2 km, maka akan ada 15 transek yang tembus dari Selatan ke Utara, yang secara konsisten akan dilakukan oleh 15 tim sensus. Tim sensus berjalan menyusuri transek masing-masing dan mengukur serta mencatat arah jejak yang ditemukan.
Diharapkan dengan konsistensi metode yang digunakan dalam sensus tahunan ini, maka data trend populasi untuk waktu yang akan datang dapat diperoleh. Setelah selesai analisa data akan dilakukan ekspose mengenai evaluasi lengkap oleh para ahli biologi dan matematik, untuk menentukan pola dan metode sensus pada tahun-tahun mendatang, disamping strategi penyelamatannya. Kiranya tahun ini boleh dikatakan waktu yang tepat, karena tahun 2008 ini adalah seabad kebangkitan nasional, serta juga seabad perlindungan badak jawa, dimana tahun 1908 adalah tahun diumumkannya bahwa badak jawa sebagai satwa liar dilindungi.










