Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Hasil Sensus Badak Jawa Tahun 2008

Hasil Sensus Badak Jawa Tahun 2008

Monday, 22 December 2008 00:00 Admin TNUK
Hasil Sensus Badak Tahun 2008

Balai Taman Nasional Ujung Kulon telah selesai melakukan penghitungan jumlah populasi badak Jawa tahun 2008 berdasarkan data temuan tapak yang dikumpulkan oleh tim sensus di lapangan pada tanggal 10 s/d 17 Desember 2008. Data tapak badak jawa yang digunakan untuk menentukan taksiran jumlah populasi minimum adalah tapak badak yang berumur < 1 hari, dan 2-4 hari, sedangkan untuk menentukan taksiran jumlah populasi maksimum adalah semua tapak yang tercatat pada saat sensus badak jawa dilakukan. Argumen yang digunakan untuk menentukan apakah badak tersebut adalah individu yang berbeda adalah dengan melihat ukuran tapak yang sama dan berumur < 2-4 hari dengan azimut yang sama/searah ( ± 15º atau 45º) dengan jarak 1 km atau berada dalam radius 6 km.

Secara keseluruhan jumlah tapak badak yang berhasil dikumpulkan oleh tim sensus badak jawa tahun 2008 adalah 50 tapak, dengan rincian ukuran tapak sebagai berikut : ukuran tapak 17-18 (1 buah), 19-20 (2 buah), 21-22 (7 buah), 22-23 (4 buah), 23-24 (8 buah), 24-25 (10 buah), 25-26 (12 buah), 26-27 (2 buah), 27-28 (3 buah), dan 28-29 (1 buah). Perkiraan umur dengan ukuran tapak 17-18 s/d 22-23 merupakan anak, 24-25 adalah remaja, 26-28 adalah dewasa, dan 29-30 adalah dewasa tua. Sebaran tapak yang ditemukan pada saat sensus badak jawa tahun 2008 dapat dilihat pada peta sebaran tapak badak jawa berikut ini.


Gambar. Peta Sebaran Tapak Badak Jawa Hasil Sensus Badak Jawa Tahun 2008

Peta sebaran tapak-tapak badak jawa tersebut menampilkan badak-badak menyebar optimal pada dataran rendah Semenanjung Ujung Kulon, kecuali pada daerah ketinggian sekitar Gunung Payung dan daerah-daerah hutan rawa di sekitara wilayah Handeuleum. Kemungkinan tersebarnya populasi badak itu berkaitan, bukan hanya amannya Ujung Kulon dari gangguan manusia tetapi juga kondisi berseminya pertumbuhan tanaman hutan. Sensus badak Jawa Tahun 2008 ini dilakukan pada musim hujan, sehingga banyak daun-daun muda bermunculan dan badak-badak menyukai pertumbuhan tanaman-tanaman muda tersebut.

Berdasarkan hasil analisa oleh tim Balai Taman Nasional Ujung Kulon, taksiran jumlah populasi badak jawa maksimum hasil sensus badak jawa tahun 2008 sebanyak 50 ekor dan taksiran populasi minimum adalah 38 ekor. Rata-rata populasi badak jawa pada tahun 2008 sebanyak 44 ekor. Hasil sensus ini serta hasil pada tahun-tahun sebelumnya belum bisa menggambarkan pertumbuhan populasi badak Jawa secara nyata. Sebagaimana diketahui hasil sensus badak jawa dalam lima tahun terakhir :

Tahun

Ukuran Populasi (ekor)

Bulan Pelaksanaan

Maksimum

Minimum

Rata-rata

2008

50

38

44

Desember

2007

27

20

24

Juli

2006

69

59

64

Desember

2005

60

53

56

Desember

2004

63

53

58

Pebruari


Hal yang menggembirakan dari temuan badak dalam sensus tahun 2008 ini dijumpai anak sebanyak 4 ekor, yang ditunjukkan dari ukuran tapak 17-18, 19-20, 21-22, 23-24. Penemuan sejumlah anak badak itu menunjukkan reproduksi badak masih berlanjut dan regenerasi bisa dijamin, dengan kondisi struktur populasi yang normal.

Untuk perbaikan sensus badak Jawa pada tahun-tahun mendatang, maka pada tanggal 23 Desember 2008 akan dilakukan kegiatan evaluasi hasil sensus badak jawa yang melibatkan stake holder terkait, antara lain IPB, Yayasan Badak Indonesia, WWF-Indonesia, dan IRF. Dalam pertemuan ini kan dibahas tentang bio-ekologi badak jawa, hasil sensus badak jawa tahun 2008, analisa populasi badak jawa dengan kamera trap, dan evaluasi metode sensus badak jawa. Diharapkan dalam pertemuan ini akan dihasilkan metode sensus badak Jawa yang tepat dan analisa hasil yang lebih baik. Sehingga nantinya pada tahun-tahun mendatang akan diperoleh metode sensus badak jawa dan analisa hasil yang lebih baik.
Last Updated on Tuesday, 09 March 2010 11:48
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 8 guests online

Pengunjung

808509
Hari IniHari Ini401
KemarinKemarin449
Minggu IniMinggu Ini850
Bulan IniBulan Ini10719
SemuaSemua808509