Pelepasliaran Monyet Ekor Panjang Di Panaitan
Pelepasliaran Monyet Ekor Panjang di Ujung Kulon
Nicoln de Lange, IAR Indonesia
Pada akhir bulan April 2009 International Animal Rescue (IAR) Indonesia melepasliarkan enam belas ekor Macaca fascicularis (monyet ekor panjang). Monyet monyet tersebut merupakan hasil sitaan yang telah menjalani program rehabilitasi dan telah bersosialisasi dengan monyet – monyet yang lain di pusat penyelamatan primata IAR Indonesia di Ciapus. Lokasi pelepasliaran adalah Pulau Panaitan tepatnya di Blok Cibariang.
Penentuan Blok Cibariang Pulau Panaitan sebagai lokasi pelepasliaran adalah berdasarkan hasil Survey Potensial Habitat Pelepasliaran Satwa di P. Panaitan TNUK pada tanggal 20 Pebruari s/d 6 Maret 2009. Penentuan lokasi pelepasliaran ini berdasarkan ketersediaan pakan alami, ketersediaan ruang dan keamanan dari predator. Dari hasil survei sebenarnya ada 3 lokasi yang direkomendasikan sebagai calon lokasi pelepasliaran monyet ekor panjang di P. Panaitan yaitu Cibariang, Citambuyung dan Legon Bajo. Namun melihat besarnya ketersediaan ruang di Cibariang maka diputuskan bahwa lokasi pelepasliaran adalah Blok Cibariang.
Blok Cibariang pun memiliki banyak potensi pakan alami bagi Monyet ekor panjang yaitu sebagai berikut :
- Melinjo (Gnetum gnemon), bisa dimakan buah dan daunnya yang muda,
- Kiara (Ficus spp) bisa dimakan buah dan daunnya yang muda,
- Burahol (Steleocarpus burahol), bisa dimakan buahnya
- Rao (Dragontomelon spp), bisa dimakan buahnya,
- Kikangkareng, dimakan buahnya,
- Buni (Antidesma bunius), dimakan buahnya,
- Lumpit (Terminalia edulis), dimakan buahnya,
- Kimonyet, dimakan bunga dan daunnya yang muda,
- Manggis hutan, dimakan buahnya,
- Rhizophora apiculata, dimakan buah, bunga dan daunnya yang muda,
- Avicenia Sp, dimakan buah, bunga dan daunnya yang muda,
- Bruguera sp, dimakan buah, bunga dan daunnya yang muda
Selain jenis tumbuhan, masih banyak potensi pakan lainnya diantaranya adalah berbagai jenis serangga, kepiting, kerang-kerangan, dan telur burung.
Sebelum dilepaskan monyet ekor panjang dipasang microchip untuk penanda dan dimasukkan terlebih dahulu pada kandang habituasi yang terbuat dari bambu dan jaring. Dalam kandang habituasi, monyet – monyet tersebut akan membiasakan diri dengan suara, bau - bauan dan makanan di sekitar lingkungan yang baru. Setelah beberapa hari di kandang habituasi, monyet-monyet tersebut mulai dilepaskan di alam liar. Selama beberapa minggu pertama monyet-monyet tersebut tetap diawasi untuk memastikan bahwa mereka telah mendapatkan kembali insting alaminya. Saat ini monitoring masih terus dilakukan oleh petugas Balai Taman Nasional Ujung Kulon untuk mengetahui daya adaptasi, kondisi terkini dan perilaku satwa tersebut di habitat barunya. Semoga di rumah barunya monyet-monyet tersebut dapat hidup dengan nyaman.














