Monitoring Badak Jawa Dengan Video Trap
Monitoring Badak Jawa Dengan Menggunakan Video Trap
Hendra Purnama, Pengendali Ekosistem Hutan Pelaksana di Taman Nasional Ujung Kulon
dikutip dari Laporan Kegiatan Monitoring Badak Jawa Menggunakan Video Trap
Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan habitat yang ideal bagi Badak Jawa. Di Taman Nasional Ujung Kulon tersedia berbagai kebutuhan yang diperlukan bagi spesies tersebut, baik tempat berlindung, tempat berhubungan sosial, maupun ketersediaan jenis pakan, air dan mineral. Untuk mendapatkan data dan informasi mengenai badak jawa dan perilakunya, Balai TN. Ujung Kulon bekerja sama dengan WWF Ujung Kulon mengadakan kegiatan monitoring badak jawa dengan menggunakan video trap. Kegiatan pemasangan video trap bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah populasi badak jawa di Semenanjung Ujung Kulon yaitu dengan mengetahui jumlah individu, sex ratio, distribusi berdasarkan musim dan daerah konsentrasi serta perilaku badak jawa pada saat berkubang, mandi/berendam, kawin, makan, pengasuhan anak sampai proses penyapihan.
Kegiatan monitoring badak jawa dengan menggunakan video trap dilakukan pada blok yang dibuat berdasarkan grid pada peta kerja. Blok – blok ini akan membagi Semenanjung Ujung Kulon dalam luasan 400 Ha (2 km x 2 km) di masing-masing blok. Mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki maka hanya dapat dipasang 35 unit video trap pada beberapa titik konsentrasi badak jawa. Hasil rekaman video yang diperoleh akan diidentifikasi dengan menggunakan metode Mike Grifith untuk membedakan setiap jenis individunya.
Kegiatan monitoring Badak Jawa menggunakan Video trapp yang dilaksanakan mulai bulan maret 2008 sampai dengan bulan Juli 2009 telah mendapatkan jumlah populasi sementara badak jawa yaitu 19 ekor individu yang berbeda yang terdiri dari 8 ekor betina, 11 ekor jantan dengan komposisi 8 induk betina, 4 anak, 2 remaja, dan 5 jantan dewasa. Selain data populasi, pemasangan video trap memberikan informasi baru secara visual mengenai perilaku badak jawa seperti berkubang dan aktifitasnya, saltlick (pengambilan mineral), pola pengasuhan, cara berjalan, serta pola respirasi yang sebelumnya hal itu tidak dapat dilakukan. Hasil video trap tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai data awal dalam pengelolaan habitat badak jawa didalam habitat aslinya, Taman Nasional Ujung Kulon.
MONITORING BADAK JAWA DENGAN VIDEO TRAP
Hendra Purnama, Pengendali Ekosistem Hutan Pelaksana di Taman Nasional Ujung Kulon
dikutip dari Laporan Kegiatan Laporan Monitoring Badak Jawa Menggunakan Video Trap
Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan habitat yang ideal bagi Badak Jawa. Di Taman Nasional Ujung Kulon tersedia berbagai kebutuhan yang diperlukan bagi spesies tersebut, baik tempat berlindung, tempat berhubungan sosial, maupun ketersediaan jenis pakan, air dan mineral. Untuk mendapatkan data dan informasi mengenai badak jawa dan perilakunya, Balai TN. Ujung Kulon bekerja sama dengan WWF Ujung Kulon mengadakan kegiatan monitoring badak jawa dengan menggunakan video trap. Kegiatan pemasangan video trap bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah populasi badak jawa di Semenanjung Ujung Kulon yaitu dengan mengetahui jumlah individu, sex ratio, distribusi berdasarkan musim dan daerah konsentrasi serta perilaku badak jawa pada saat berkubang, mandi/berendam, kawin, makan, pengasuhan anak sampai proses penyapihan.
Kegiatan monitoring badak jawa dengan menggunakan video trap dilakukan pada blok yang dibuat berdasarkan grid pada peta kerja. Blok – blok ini akan membagi Semenanjung Ujung Kulon dalam luasan 400 Ha (2 km x 2 km) di masing-masing blok. Mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki maka hanya dapat dipasang 35 unit video trap pada beberapa titik konsentrasi badak jawa. Hasil rekaman video yang diperoleh akan diidentifikasi dengan menggunakan metode Mike Grifith untuk membedakan setiap jenis individunya.
Kegiatan monitoring Badak Jawa menggunakan Video trapp yang dilaksanakan mulai bulan maret 2008 sampai dengan bulan Juli 2009 telah mendapatkan jumlah populasi sementara badak jawa yaitu 19 ekor individu yang berbeda yang terdiri dari 8 ekor betina, 11 ekor jantan dengan komposisi 8 induk betina, 4 anak, 2 remaja, dan 5 jantan dewasa. Selain data populasi, pemasangan video trap memberikan informasi baru secara visual mengenai perilaku badak jawa seperti berkubang dan aktifitasnya, saltlick (pengambilan mineral), pola pengasuhan, cara berjalan, serta pola respirasi yang sebelumnya hal itu tidak dapat dilakukan. Hasil video trap tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai data awal dalam pengelolaan habitat badak jawa didalam habitat aslinya, Taman Nasional Ujung Kulon.














