Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Analisis Nutrisi Dan Hormon Badak Jawa

Analisis Nutrisi Dan Hormon Badak Jawa

Saturday, 06 March 2010 11:45 Admin TNUK
Print PDF

Analisis Nutrisi dan Hormon Badak Jawa Melalui Kotoran
Di Taman Nasional Ujung Kulon


Kegiatan analisis nutrisi dan hormon badak jawa melalui kotoran di TN. Ujung Kulon merupakan salah satu kegiatan yang baru dilakukan dalam pengelolaan habitat dan perlindungan bagi badak jawa kerjasama antara Balai TNUK dengan WWF Ujung Kulon. Tujuan dari analisis nutrisi dan horman ini adalah untuk menghitung biomassa dari pakan dan kotoran badak jawa.

Metode yang digunakan sederhana, yaitu dengan melacak dan mengikuti badak jawa yang datanya telah didapatkan melalui video trap, kemudian melakukan pengamatan terhadap perilaku harian, pola makan, pola buang kotoran dan pola penggunaan ruang oleh badak jawa dengan penekanan pada pengumpulan dan penghitungan biomassa pakan dan kotoran yang ditemukan. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan ini diantaranya : 1 unit timbangan, oven pengering, peta kerja, GPS, kamera digital, thermohygro, kompas, meteran, lakban, tabung kotoran, etanol, golok, lembar data/tallysheet, dan alat tulis
Penghitungan biomassa pakan badak jawa dilakukan saat menemukan bekas pakan dengan usia kurang dari satu hari. Dengan sampel yang sejenis dilakukan penghitungan berat basah dan berat kering pasca pengeringan. Sedangkan pada penghitungan biomasasa kotoran dilakukan dengan mengumpulkan kotoran yang masih segar (usia kurang dari 1 hari) kemudian ditimbang untuk mendapatkan berat basah, sebagian sampel diambil untuk uji laboratorium dan sisanya dioven untuk mendapatkan berat kering. Analisis laboratorium dilakukan di laboratorium IPB Bogor untuk mengetahui kandungan proksimate, AIA, tannin dan saponin.
Pada tanggal 18 – 27 Oktober 2009 di tiga lokasi pengamatan, yaitu unit I blok 14 Muara Cigenter, unit II blok 52 Citadahan muara, unit III blok 55 Hulu Cigenter transek 12 dilakukan pengambilan sampel kotoran dan pakan. Selama masa pengamatan dijumpai badak jawa secara langsung sebanyak 4 ekor yang sedang berkubang dalam kubangan yang sama yaitu di kubangan DOY blok 44 Rorah Daon. Hal ini menandakan badak jawa tidak bersifat soliter secara absolut tetapi dalam kondisi tertentu, misalnya perilaku sosial terhadap pasangan atau hubungan sedarah maka mereka bisa menggunakan ruang dan waktu secara bersama-sama. Selain perjumpaan dengan badak jawa, tim pengamat juga menjumpai kubangan sebanyak 14 buah, 10 hamparan rumpang alam baru dengan taksiran luasan ± 133 Ha, dan 10 tumpuk kotoran segar dari individu yang berbeda. Sebanyak 6 tumpuk kotoran dengan usia kurang dari 1 hari diambil sebagai sampel.
Dari perhitungan biomasa pakan dan kotoran badak diperoleh gambaran bahwa kandungan air yang terdapat pada kotoran berkisar antara 67 s/d 75 % sedangkan pada pakan badak sangat bervariasi tergantung pada jenis tumbuhan pakan badak tersebut. Sedangkan untuk hasil analisis laboratorium masih menunggu hasil uji laboratorium dari IPB Bogor.

Last Updated on Tuesday, 09 March 2010 11:35
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 72 guests online

Pengunjung

898292
Hari IniHari Ini38
KemarinKemarin450
Minggu IniMinggu Ini38
Bulan IniBulan Ini8493
SemuaSemua898292