Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Rhino Rescue

Rhino Rescue

Friday, 30 April 2010 10:20 Admin TNUK
Print PDF

Banyak orang tidak menyadari akan manfaat yang muncul dengan keberadaan spesies badak bercula satu yang meliputi manfaat sosial, ekonomi, politik, dan ilmu pengetahuan.  Keberadaan spesies ini memberikan nilai sosial berupa nilai-nilai budaya yang terkait dengan kearifan lokal suku Baduy dan juga kearifan penduduk di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon yang menjunjung tinggi karakteristik yang ditunjukkan oleh spesies badak ini. Berbagai penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa spesies ini memiliki sifat: tangguh, tertib, dan toleran.  Ketangguhan badak terlihat dari kemampuannya untuk bertahan hidup selama ini dan setelah melalui berbagai tekanan bencana alam dan juga perburuan.  Ketertiban badak dapat dilihat dari perilakunya dimana masing-masing badak memiliki jalur-jalur dan ruang jelajah tertentu yang tidak mengganggu badak lain maupun spesies hewan lainnya.  Ketahanan hidup jenis satwa ini dalam kebersamaan dengan banyak jenis hidupan liar di Ujung Kulon menunjukkan tingginya sifat toleransi.


Ekonomi masyarakat secara langsung melalui penyediaan barang dan jasa bagi para pengunjung (wisatawan, peneliti maupun pengunjung berziarah) yang berkunjung karena keindahan lanskap alami hutan Ujung Kulon, perairan laut yang masih utuh dan menantang, bahkan kesempatan melihat kehidupan badak atau jenis-jenis satwa lain dan habitat hutannya, serta ketersediaan tempat-tempat penziarahan.  Bagi para pelajar, mahasiswa maupun peneliti, potensi taman nasional merupakan laboratorium alam terbuka yang penting bagi ilmu pengetahuan dan media pembelajaran kehidupan berbudaya baik dan bijaksana.


Kehidupan jenis badak bercula satu di Taman Nasional Ujung Kulon dapat dikatakan sedang menghadapi risiko bahaya bencana, yaitu risiko gempa bumi dan perubahan iklim.  Untuk itulah, guna mempertahankan kehidupan satwa purba yang nyata hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon, Pemerintah, melalui Kementerian Kehutanan, menerbitkan Rencana Aksi dan Strategi Konservasi Badak di Indonesia, dan lebih lanjut secara khusus untuk populasi badak jawa, telah disusun Program penyelamatan badak bercula satu (Rhino Rescue).


Tidak terbantahkan bahwa badak bercula satu merupakan spesies karismatik yang telah menjadi ikon masyarakat Banten dan Pandeglang pada khususnya.  Tidak dapat diinginkan juga kisah kehidupan badak tersebut seperti cerita atau dongeng harimau jawa dan harimau bali yang pernah ada dan kini telah tiada.  Setelah melalui diskusi-diskusi intensif, para ahli badak dan beberapa pemerhati konservasi badak menyusun program Rhino Rescue yang terdiri dari berbagai kegiatan yang dipercaya dapat melindungi badak bercula satu dari kepunahan, mencakup dua langkah penting yaitu :
1.    Perluasan habitat dan pendirian Suaka Badak
2.    Pencarian dan persiapan lokasi untuk reintroduksi badak
Kedua langkah ini merupakan bagian sinergis yang telah dipelajari dan diyakini oleh para praktisi dan akademisi yang berkecimpung di dunia konservasi badak sebagai kunci penyelamatan spesies badak bercula satu.


Para ahli di seluruh dunia sepakat bahwa untuk mengantisipasi risiko bencana alam dan perubahan iklim serta menjamin keberadaan spesies ini di masa mendatang, maka badak bercula satu memerlukan “rumah” tambahan berupa lahan yang dulu pernah dihuni, selain yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon.  Upaya pencarian dilakukan dengan mengidentifikasi daerah-daerah yang pernah dihuni oleh badak, dengan pemetaan dan pemodelan, yang memiliki banyak kesamaan dengan habitat Ujung Kulon.  Pertimbangan konservasi bagi habitat badak jawa yang kedua diperlukan adalah aspek iklim mikro (kelembaban dan suhu), kebutuhan hidupnya, seperti : kubangan, rumpang (tempat makan badak), dan akses ke sumber air, disamping memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Beberapa lokasi yang sempat diteliti untuk “rumah”  kedua adalah : Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dan hutan ulayat Baduy (Kabupaten Lebak), sementara lokasi yang sedang dikaji dari sisi pemetaannya terdiri dari: Leuweung Sancang, Cikepuh (Kabupaten Sukabumi & Pelabuhan Ratu), Bukit Barisan Selatan, Way Kambas (Provinsi Lampung), dan Rimba harapan (Provinsi Jambi).  

Pencarian dan Persiapan Lokasi Reintroduksi
Konsep pencarian lokasi reintroduksi (2nd habitat) berdasar pada pola sebaran historis badak bercula satu yang pernah ditemukan di sebagian besar wilayah di Asia Tenggara.  Namun -karena berbagai tekanan- kini spesies badak tersebut hanya berada di Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, serta di Taman Nasional Cat Tien di Vietnam .  

Pemilihan badak untuk dipindahkan juga akan mengalami proses seleksi yang ketat karena tidak semua badak dari Ujung Kulon akan dipindahkan.  Diperkirakan 6-10 ekor badak untuk reintroduksi dan memulai populasi baru di 2nd habitat, melalui pemilihan hewan jantan dan betina berdasarkan informasi visual (foto dan video) ataupun informasi genetik, kerentanan hewan terhadap stress dan kemampuan hewan tersebut untuk beradaptasi.  Metode pemindahan badak juga akan dilakukan dengan cara yang paling aman menggunakan jebakan, restrain (anestesi), dan transportasi (darat, laut, udara) dibantu tenaga ahli yang berpengalaman dari India, Nepal, dan Afrika.


Keuntungan Rhino Rescue bagi Pemerintah Daerah
Perpindahan badak dari Ujung Kulon ke fasilitas suaka dan reintroduksi ke 2nd Habitat kemungkinan akan menjadikan Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglan sebagai daerah “donor”badak, sementara bila lokasi reintroduksi (2nd habitat) terdapat di luar Banten ataupun Pandeglang, maka akan ada daerah yang disebut sebagai daerah “resipien” badak. Walaupun demikian, skenario tersebut akan menjamin keselamatan badak bercula satu, dan dengan selamatnya badak bercula satu dari kepunahan, maka pemerintah daerah akan mendapatkan berbagai keuntungan sebagai berikut :

  • Daerah “donor” akan dikenal sebagai daerah yang memberi dan mendapatkan keuntungan dengan adanya populasi badak di Ujung Kulon sebagai populasi induk.
  • Keberadaan badak di daerah donor akan tetap mengundang perhatian dan dukungan berbagai pihak termasuk perhatian dari internasional.
  • Daerah donor dan resipien dapat menyusun skenario pembiayaan seperti yang telah diterapkan di Afrika Selatan berupa mekanisme “lelang”.  Dalam mekanisme ini daerah resipien akan memberikan bantuan pada daerah donor berupa dana ataupun berupa kegiatan pengembangan perekonomian masyarakat.
  • Daerah “resipien” akan menerima manfaat dengan keberadaan badak bercula satu ini berupa peningkatan potensi PAD dari wisata minat khusus yang berbasis satwa langka.
  • Komunitas pemerhati konservasi badak akan berkomitmen memberikan bantuan teknis untuk memperkuat kapasitas pengelolaan dan juga kapasitas ekonomi masyarakat untuk menjamin koeksistensi antara masyarakat dengan spesies badak bercula satu di lokasi reintroduksi (2nd habitat).

Dengan demikian, program Rhino Rescue merupakan program yang memberikan manfaat bagi semua pihak: Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan tentunya manfaat bagi kelestarian spesies langka yang merupakan kebanggaan masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Banten pada khususnya.

Last Updated on Friday, 30 April 2010 12:22
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 10 guests online

Pengunjung

822593
Hari IniHari Ini5
KemarinKemarin516
Minggu IniMinggu Ini2404
Bulan IniBulan Ini10516
SemuaSemua822593