PENILAIAN SECOND HABITAT BADAK JAWA SEBAGAI BENTUK IMPLEMENTASI DOKUMEN STRATEGI DAN RENCANA AKSI KONSERVASI BADAK DI INDONESIA
Ramono, W., Isnan, M.W., Sadjudin, H.R., Gunawan, H., Dahlan, E.N., Sectionov,
Pairah, Haryiadi, A.R., Syamsudin, M., Talukdar, B.K., dan Gillison, A.N.
Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan mamalia langka yang hampir punah dan paling terancam keberadaannya. Pada tahun 2007 telah disusun dokumen “Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak di Indonesia” yang salah satu strateginya adalah memindahkan sebagian populasi badak jawa ke daerah lain untuk meningkatkan daya dukung dan menjamin kelangsungan populasi badak jawa. Sebagai bentuk implementasi dokumen tersebut telah dilaksanakan sebuah pertemuan pada tanggal 9 Mei 2008. Pada pertemuan tersebut disepakati tentang perlunya penilaian habitat badak jawa, baik di TN. Ujung kulon dan beberapa calon lokasi lain yang akan menjadi lokasi pemindahan di luar Semenanjung Ujung Kulon seperti Gunung Honje, Gunung Halimun, Masigit Kareumbi, dan Leuweung Sancang.
</p>
<hr id="system-readmore" />
Penilaian second habitat Badak Jawa dilakukan oleh tim yang terdiri dari personil YABI, WWF, dan IRF serta didampingi oleh konsultan asing. Metode yang digunakan dalam penilaian tersebut adalah metode survey dengan desain gradsect digabungkan dengan Veg Class dan memasukkan atribut kunci dari kondisi fisik lingkungan seperti jenis-jenis tumbuhan, tipe dan struktur vegetasi. Sebagai bagian dari prosedur gradsect, kondisi lingkungan diwakili oleh transek dengan ukuran 40 x 5 m. Penentuan lokasi awal dilakukan berdasarkan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap peta vegetasi, laporan yang ada sebelumnya, dan citra satelit. Transek-transek ini kemudian ditempatkan di lapangan sehingga melewati habitat badak jawa, baik tempat yang sangat disukai hingga tempat yang jarang didatangi. Semua data digunakan sebagai acuan untuk pembuatan peta dan pola penggunaan ruang. Setiap lokasi transek difoto secara menyeluruh. Informasi tambahan yang ada di lokasi yang menunjukkan secara detail habitat yang disukai oleh badak jawa juga dicatat. Demikian juga akibat dari aktivitas makan badak (browsing, memakan pucuk/tunas daun).
Untuk memudahkan dalam melakukan analisis secara menyeluruh, metode yang sama digunakan pula dalam survey orientasi di daerah habitat badak jawa di Semenanjung Ujung Kulon (7 transek), kemudian di habitat potensial daerah perbatasan Gunung Honje (17 transek) dan berikutnya di TN. Gunung Halimun (8 transek). Selain data bio fisik kawasan, juga diambil data sosial ekonomi masyarakat sekitar Gunung Honje dan Ciusul di TN. Gunung Halimun. Pengambilan data sosial ekonomi dilakukan secara menyeluruh dengan menggunakan 54 parameter di bidang sosial ekonomi yang dirancang untuk merekam tanggapan masyarakat baik positif maupun negatif terhadap rencana pengelolaan dan pemindahan badak jawa. Data biofisik diolah dengan format standar dan dianalisa dengan menggunakan statistik regresi dan multivariabel. Lokasi yang lain, Masingit Kareumbi dan Leuweung Sancang dikaji melalui analisa citra.
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa habitat yang disukai badak jawa bergantung pada banyak faktor biofisik lingkungan termasuk pengaruh aktivitas manusia. Vegetasi dan ketinggian merupakan elemen penting dari habitat yang disukai badak jawa. Pengaruh mereka dibatasi oleh ketersediaan air, garam mineral dan khususnya kondisi lokasi yang mendukung pemeliharaan kubangan untuk jangka waktu yang lama. Di musim kemarau, kekurangan air dapat menjadi masalah, seperti yang pernah terjadi di TN. Ujung kulon, dan hal ini mungkin sangat membatasi pergerakan badak jawa. Pola historis dari keduanya, alam dan gangguan manusia di Ujung Kulon telah menghasilkan tahapan suksesi dari regenerasi vegetasi yang pada awal hingga pertengahan tahap perintis adalah sumber berharga tumbuhan pakan dan dimana hutan primer menyediakan tutupan. Dari pengecekan tutupan vegetasi di lapangan dan melalui penginderaan jauh menunjukkan bahwa pola tutupan lahan menjadi semakin homogen sebagai bentuk suksesi kearah hutan tertutup. Sebagai akibatnya, ketersediaan tumbuhan pakan dapat menurun, terutama di area yang di invasi oleh langkap. Di Gunung Halimun, Masigit Kareumbi dan Leuweung Sancang, di mana aktivitas manusia sangat terbatas, sumber daya pendukung untuk habitat badak jawa yang disukai pun sudah sangat minimal.
Dengan mempertimbangkan berbagai elemen biofisik, termasuk pengaruh kegiatan manusia, dapat diperoleh kesimpulan akhir bahwa kondisi di Semenanjung Ujung Kulon dan perbatasan Gunung Honje mungkin tidak sepenuhnya optimal untuk pengelolaan berkelanjutan Badak Jawa, tetapi kedua lokasi ini jauh lebih baik daripada yang ditawarkan di TN. Halimun Salak atau dua tempat lainnya, di mana translokasi hampir pasti akan mengakibatkan kegagalan.