Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Penilaian Second Habitat

Penilaian Second Habitat

Monday, 17 January 2011 13:49 Admin TNUK
Print PDF

PENILAIAN SECOND HABITAT BADAK JAWA SEBAGAI BENTUK IMPLEMENTASI DOKUMEN STRATEGI DAN RENCANA AKSI KONSERVASI BADAK DI INDONESIA

Ramono, W., Isnan, M.W., Sadjudin, H.R., Gunawan, H., Dahlan, E.N., Sectionov,

Pairah, Haryiadi, A.R., Syamsudin, M., Talukdar, B.K., dan Gillison, A.N.


Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan mamalia langka yang hampir punah dan paling terancam keberadaannya. Pada tahun 2007 telah disusun dokumen “Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak di Indonesia” yang salah satu strateginya adalah memindahkan sebagian populasi badak jawa ke daerah lain untuk meningkatkan daya dukung dan menjamin kelangsungan populasi badak jawa. Sebagai bentuk implementasi dokumen tersebut telah dilaksanakan sebuah pertemuan pada tanggal 9 Mei 2008. Pada pertemuan tersebut disepakati tentang perlunya penilaian habitat badak jawa, baik di TN. Ujung kulon dan beberapa calon lokasi lain yang akan menjadi lokasi pemindahan di luar Semenanjung Ujung Kulon seperti Gunung Honje, Gunung Halimun, Masigit Kareumbi, dan Leuweung Sancang.

 

</p>
<hr id="system-readmore" />
Penilaian second habitat Badak Jawa dilakukan oleh tim yang terdiri dari personil YABI, WWF, dan IRF serta didampingi oleh konsultan asing. Metode yang digunakan dalam penilaian tersebut adalah metode  survey dengan desain gradsect digabungkan dengan Veg Class dan memasukkan atribut kunci dari kondisi fisik lingkungan seperti jenis-jenis tumbuhan, tipe dan struktur vegetasi. Sebagai bagian dari prosedur gradsect, kondisi lingkungan diwakili oleh transek dengan ukuran 40 x 5 m. Penentuan lokasi awal dilakukan berdasarkan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap peta vegetasi, laporan yang ada sebelumnya, dan citra satelit. Transek-transek ini kemudian ditempatkan di lapangan sehingga melewati habitat badak jawa, baik tempat yang sangat disukai hingga tempat yang jarang didatangi. Semua data digunakan sebagai acuan untuk pembuatan peta dan pola penggunaan ruang. Setiap lokasi transek difoto secara menyeluruh. Informasi tambahan yang ada di lokasi yang menunjukkan secara detail habitat yang disukai oleh badak jawa juga dicatat. Demikian juga akibat dari aktivitas makan badak (browsing, memakan pucuk/tunas daun).
Untuk memudahkan dalam melakukan analisis secara menyeluruh, metode yang sama digunakan pula dalam survey orientasi di daerah habitat badak jawa di Semenanjung Ujung Kulon (7 transek), kemudian di habitat potensial daerah perbatasan Gunung Honje (17 transek) dan berikutnya di TN. Gunung Halimun (8 transek). Selain data bio fisik kawasan, juga diambil data sosial ekonomi masyarakat sekitar Gunung Honje dan Ciusul di TN. Gunung Halimun. Pengambilan data sosial ekonomi dilakukan secara menyeluruh dengan menggunakan 54 parameter di bidang sosial ekonomi yang dirancang untuk merekam tanggapan masyarakat baik positif maupun negatif terhadap rencana pengelolaan dan pemindahan badak jawa. Data biofisik diolah dengan format standar dan dianalisa dengan menggunakan statistik regresi dan multivariabel. Lokasi yang lain, Masingit Kareumbi dan Leuweung Sancang dikaji melalui analisa citra.
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa habitat yang disukai badak jawa bergantung pada banyak faktor biofisik lingkungan termasuk pengaruh aktivitas manusia. Vegetasi dan ketinggian merupakan elemen penting dari habitat yang disukai badak jawa. Pengaruh mereka dibatasi oleh ketersediaan air, garam mineral dan khususnya kondisi lokasi yang mendukung pemeliharaan kubangan untuk jangka waktu yang lama. Di musim kemarau, kekurangan air dapat menjadi masalah, seperti yang pernah terjadi di TN. Ujung kulon, dan hal ini mungkin sangat membatasi pergerakan badak jawa. Pola historis dari keduanya, alam dan gangguan manusia di Ujung Kulon telah menghasilkan tahapan suksesi dari regenerasi vegetasi yang pada awal hingga pertengahan tahap perintis adalah sumber berharga tumbuhan pakan dan dimana hutan primer menyediakan tutupan. Dari pengecekan tutupan vegetasi di lapangan dan melalui penginderaan jauh menunjukkan bahwa pola tutupan lahan menjadi semakin homogen sebagai bentuk suksesi kearah hutan tertutup. Sebagai akibatnya, ketersediaan tumbuhan pakan dapat menurun, terutama di area yang di invasi oleh langkap. Di Gunung Halimun, Masigit Kareumbi dan Leuweung Sancang, di mana aktivitas manusia sangat terbatas, sumber daya pendukung untuk habitat badak jawa yang disukai pun sudah sangat minimal.
Dengan mempertimbangkan berbagai elemen biofisik, termasuk pengaruh kegiatan manusia, dapat diperoleh kesimpulan akhir bahwa kondisi di Semenanjung Ujung Kulon dan perbatasan Gunung Honje mungkin tidak sepenuhnya optimal untuk pengelolaan berkelanjutan Badak Jawa, tetapi kedua lokasi ini jauh lebih baik daripada yang ditawarkan di TN. Halimun Salak atau dua tempat lainnya, di mana translokasi hampir pasti akan mengakibatkan kegagalan.

 

Last Updated on Wednesday, 19 January 2011 14:35
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 58 guests online

Pengunjung

839075
Hari IniHari Ini280
KemarinKemarin474
Minggu IniMinggu Ini1598
Bulan IniBulan Ini12569
SemuaSemua839075