Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Lembaga Konservasi Desa

Lembaga Konservasi Desa

Sunday, 28 August 2011 00:35 Admin TNUK
PDF

 

PEMBENTUKAN LEMBAGA KONSERVASI DESA
SEBAGAI UPAYA PENGELOLAAN HUTAN PARTISIPATIF
DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON
Taman Nasional Ujung Kulon sebagai salah satu kawasan konservasi tertua, tak lepas dari beberapa permasalahan terutama yang ditimbulkan oleh masyarakat sekitar kawasan. Dengan posisinya yang dikelilingi 19 (Sembilan belas) desa penyangga membuka peluang yang besar bagi masyarakat sekitar untuk berinteraksi negative dengan kawasan dalam bentuk pengambilan madu, pencurian kayu dan burung, maupun perambahan (pembukaan lahan untuk sawah, kebun/ladang bahkan pemukiman).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pengelola Taman Nasional Ujung Kulon berupaya membangun komunikasi dan memberikan akses bagi masyarakat serta mengakomodir kearifan lokal melalui pengelolaan hutan partisipatif. Pengelolaan Hutan Partisipatif adalah serangkaian upaya terpadu dalam mendayagunakan sumberdaya alam dan sumberdaya masyarakat untuk bersama-sama melindungi, memanfaatkan, melestarikan, memelihara, dan memulihkan fungsi sumberdaya alam. Pengelolaan Hutan Partisipatif tersebut diawali dengan kesepahaman dan kesepakatan pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif.
Dalam mendukung Pengelolaan hutan partisipatif ini dibentuklah sebuah lembaga yaitu Lembaga Konservasi Desa (LKD).  Lembaga Konservasi Desa merupakan Lembaga independen yang dikelola oleh masyarakat dan  memiliki fungsi kelola potensi, sosial dan kemitraan, pengembangan SDM serta fungsi kontrol sumberdaya dan sosial budaya. Prinsip yang dianut Lembaga Konservasi  Desa adalah prinsip keserasian, pendekatan kemitraan, keadilan, pendekatan swadaya, pendekatan kearifan local dan pendekatan kekeluargaan.  Selain masyarakat, pembentukan Lembaga Konservasi Desa ini melibatkan beberapa pihak antara lain pihak pemerintah daerah di tingkat desa maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Lembaga Konservasi Desa telah dibentuk di  beberapa desa penyangga Taman Nasional Ujung Kulon terutama wilayah desa yang berbatasan langsung dengan kawasan yaitu Desa Cibadak, Desa Kertamukti, Desa Rancapinang, Desa Kertajaya, Desa Tamanjaya, Desa Mangkualam, Desa Padasuka.
Melalui Lembaga Konservasi Desa ini diharapkan dapat terbangun kesepahaman dan kesepakatan dalam pengelolaan hutan partisipatif sehingga Visi dan Misi Taman Nasional Ujung Kulon “Ujung Kulon Lestari, Masyarakat sejahtera” dapat terwujud.

PEMBENTUKAN LEMBAGA KONSERVASI DESA

SEBAGAI UPAYA PENGELOLAAN HUTAN PARTISIPATIF

DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

 

 

Taman Nasional Ujung Kulon sebagai salah satu kawasan konservasi tertua, tak lepas dari beberapa permasalahan terutama yang ditimbulkan oleh masyarakat sekitar kawasan. Dengan posisinya yang dikelilingi 19 (Sembilan belas) desa penyangga membuka peluang yang besar bagi masyarakat sekitar untuk berinteraksi negative dengan kawasan dalam bentuk pengambilan madu, pencurian kayu dan burung, maupun perambahan (pembukaan lahan untuk sawah, kebun/ladang bahkan pemukiman).

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pengelola Taman Nasional Ujung Kulon berupaya membangun komunikasi dan memberikan akses bagi masyarakat serta mengakomodir kearifan lokal melalui pengelolaan hutan partisipatif. Pengelolaan Hutan Partisipatif adalah serangkaian upaya terpadu dalam mendayagunakan sumberdaya alam dan sumberdaya masyarakat untuk bersama-sama melindungi, memanfaatkan, melestarikan, memelihara, dan memulihkan fungsi sumberdaya alam. Pengelolaan Hutan Partisipatif tersebut diawali dengan kesepahaman dan kesepakatan pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif.

Dalam mendukung Pengelolaan hutan partisipatif ini dibentuklah sebuah lembaga yaitu Lembaga Konservasi Desa (LKD).  Lembaga Konservasi Desa merupakan Lembaga independen yang dikelola oleh masyarakat dan  memiliki fungsi kelola potensi, sosial dan kemitraan, pengembangan SDM serta fungsi kontrol sumberdaya dan sosial budaya. Prinsip yang dianut Lembaga Konservasi  Desa adalah prinsip keserasian, pendekatan kemitraan, keadilan, pendekatan swadaya, pendekatan kearifan local dan pendekatan kekeluargaan.  Selain masyarakat, pembentukan Lembaga Konservasi Desa ini melibatkan beberapa pihak antara lain pihak pemerintah daerah di tingkat desa maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Lembaga Konservasi Desa telah dibentuk di  beberapa desa penyangga Taman Nasional Ujung Kulon terutama wilayah desa yang berbatasan langsung dengan kawasan yaitu Desa Cibadak, Desa Kertamukti, Desa Rancapinang, Desa Kertajaya, Desa Tamanjaya, Desa Mangkualam, Desa Padasuka.

Melalui Lembaga Konservasi Desa ini diharapkan dapat terbangun kesepahaman dan kesepakatan dalam pengelolaan hutan partisipatif sehingga Visi dan Misi Taman Nasional Ujung Kulon “Ujung Kulon Lestari, Masyarakat sejahtera” dapat terwujud.

 

 

Last Updated on Monday, 29 August 2011 05:06
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 45 guests online

Pengunjung

822636
Hari IniHari Ini48
KemarinKemarin516
Minggu IniMinggu Ini2447
Bulan IniBulan Ini10559
SemuaSemua822636