Kekayaan Nyamplung di TNUK
KEKAYAAN NYAMPLUNG DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON
Oleh : Aris Budi Pamungkas & Amila Nugraheni
Nyamplung……tentu tanaman itu kini tak asing lagi di telinga para rimbawan kehutanan. Buah yang berbentuk bulat ini sekarang mulai dikenal dan dimanfaatkan sebagai penghasil biofuel energy. Kelebihan nyamplung sebagai bahan baku biofuel adalah bijinya mempunyai rendemen yang tinggi, bisa mencapai 74%, dan dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi dengan kepentingan pangan.
Kelompok pohon ini tumbuh mulai dari hutan di pegunungan hingga di rawa-rawa dan pantai. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 30 m dan diameternya dapat mencapai 0,8 m. Batang berdiri tegak dan berbentuk lurus dengan percabangan mendatar. Kulit luar berwarna kelabu /putih, beralur dangkal dan mengelupas. Daun tanaman ini mengkilap. Buah nyamplung muda berwarna hijau dan jika tua berwarna coklat kekuningan. Daging biji tipis dan berbiji cukup besar 2.5 cm, biji kering berwarna coklat dan lengket berminyak.
Adapun Taksonomi tanaman Nyamplung adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Clusiaceae
Genus : Calophyllum
Species : Calophyllum inophyllum
Selain kini dikenal sebagai penghasil biofuel, Nyampung mempunyai banyak kegunaan baik dari kayunya maupun buahnya. Pohon nyamplung selama ini dimanfaatkan kayunya untuk kebutuhan konstruksi, furnitur, pembuatan lemari, kapal, alat musik, dan lain-lain. Bahkan, getah dari kulit kayunya yang telah dipipihkan konon bisa dijadikan obat.
Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dengan total luas daratan mencapai 76.214 Ha, ternyata memiliki potensi tanaman Nyamplung yang cukup besar. Dengan teknik pencacahan/menghitung individu pohon nyamplung pada blok-blok pengamatan yang di huni oleh nyamplung dengan populasi yang tinggi diketahui tidak kurang dari 8 blok/lokasi di pantai utara semenanjung Ujung Kulon memiliki kekayaan nyamplung yang cukup besar yaitu Legon Ajag, Pulau Handeuleum, Citelang, Nyawaan, Cimayang, Pulau Peucang, Cibom dan Talanca seperti terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Sebagian Lokasi Sebaran Nyamplung di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon
Dari 8 lokasi/blok yang telah disurvei tersebut tidak kurang tercatat 2.653 batang nyamplung dengan perkiraan mampu menghasilkan ± 132.650 kg/tahun (132,7 ton/tahun) biji nyamplung sebagaimana terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Individu, Luas, Potensi Buah dan kerapatan nyamplung di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Pulau Peucang mempunyai potensi yang paling tinggi dibandingkan 7 blok yang lain, yaitu tercatat 899 batang nyamplung dengan perkiraan produktivitas sebesar 45,0 ton/tahun sebagaimana terlihat pada Gambar 2. Nyamplung di pulau Peucang ditemukan di sepanjang pesisir pantai sampai dengan ± 20 s/d 40 meter dari bibir pantai ke arah hutan. Di Pulau Peucang, Nyamplung menempati barisan depan formasi hutan pantai, hal ini juga di jumpai di blok Nyawaan – Cimayang. Sementara di blok Lg. Ajag, pulau handeuleum dan blok Citelang, nyamplung mulai banyak.

Gambar 2. Potensi buah nyamplung di masing-masing blok survey
Mengingat potensi daratan Taman Nasional Ujung Kulon yang cukup besar, tidak menutup kemungkinan masih banyak potensi nyamplung di Taman Nasional Ujung Kulon yang belum disurvei, misalnya di sepanjang pantai selatan Semenanjung Ujung Kulon dan pulau Panaitan. Untuk itu Balai Taman Nasional Ujung Kulon berencana untuk melakukan survey lebih lanjut. Dan harapan ke depan tidak hanya survey yang dilakukan, namun perlu diiringi pula dengan pemanfaatan Tanaman Nyamplung demi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon.















