Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details
Selamat Datang Di Situs Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home

Kekayaan Nyamplung di TNUK

Thursday, 20 October 2011 14:05 Admin TNUK
Print PDF

 

KEKAYAAN NYAMPLUNG DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON
Oleh : Aris Budi Pamungkas & Amila Nugraheni
Nyamplung……tentu tanaman itu kini tak asing lagi di telinga para rimbawan kehutanan. Buah yang berbentuk bulat ini sekarang mulai dikenal dan dimanfaatkan sebagai penghasil biofuel energy. Kelebihan nyamplung sebagai bahan baku biofuel adalah bijinya mempunyai rendemen yang tinggi, bisa mencapai 74%, dan dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi dengan kepentingan pangan.
Kelompok pohon ini tumbuh mulai dari hutan di pegunungan hingga di rawa-rawa dan pantai. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 30 m dan diameternya dapat mencapai 0,8 m. Batang berdiri tegak dan berbentuk lurus dengan percabangan mendatar. Kulit luar berwarna kelabu /putih, beralur dangkal dan mengelupas. Daun tanaman ini mengkilap. Buah nyamplung muda berwarna hijau dan jika tua berwarna coklat kekuningan.  Daging biji tipis dan berbiji cukup besar 2.5 cm, biji kering berwarna coklat dan lengket berminyak.
Adapun Taksonomi tanaman Nyamplung adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Clusiaceae
Genus : Calophyllum
Species : Calophyllum inophyllum
Selain kini dikenal sebagai penghasil biofuel, Nyampung mempunyai banyak kegunaan baik dari kayunya maupun buahnya. Pohon nyamplung selama ini dimanfaatkan kayunya untuk kebutuhan konstruksi, furnitur, pembuatan lemari, kapal, alat musik, dan lain-lain. Bahkan, getah dari kulit kayunya yang telah dipipihkan konon bisa dijadikan obat.
Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dengan total luas daratan mencapai 76.214 Ha, ternyata memiliki potensi tanaman Nyamplung yang cukup besar. Dengan teknik pencacahan/menghitung individu pohon nyamplung pada blok-blok pengamatan yang di huni oleh nyamplung dengan populasi yang tinggi diketahui tidak kurang dari 8 blok/lokasi di pantai utara semenanjung Ujung Kulon memiliki kekayaan nyamplung yang cukup besar yaitu Legon Ajag, Pulau Handeuleum, Citelang, Nyawaan, Cimayang, Pulau Peucang, Cibom dan Talanca seperti terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.
Dari 8 lokasi/blok yang telah disurvei tersebut tidak kurang tercatat 2.653 batang nyamplung dengan perkiraan mampu menghasilkan ± 132.650 kg/tahun (132,7 ton/tahun) biji nyamplung sebagaimana terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Individu, Luas, Potensi Buah dan kerapatan nyamplung di sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Pulau Peucang mempunyai potensi yang paling tinggi dibandingkan 7 blok yang lain, yaitu tercatat 899 batang nyamplung dengan perkiraan produktivitas sebesar 45,0 ton/tahun sebagaimana terlihat pada Gambar 2. Nyamplung di pulau Peucang ditemukan di sepanjang pesisir pantai sampai dengan ± 20 s/d 40 meter dari bibir pantai ke arah hutan. Di Pulau Peucang, Nyamplung menempati barisan depan formasi hutan pantai, hal ini juga di jumpai di blok Nyawaan – Cimayang. Sementara di blok Lg. Ajag, pulau handeuleum dan blok Citelang, nyamplung mulai banyak
Mengingat potensi daratan Taman Nasional Ujung Kulon yang cukup besar, tidak menutup kemungkinan masih banyak potensi nyamplung di Taman Nasional Ujung Kulon yang belum disurvei, misalnya di sepanjang pantai selatan Semenanjung Ujung Kulon dan pulau Panaitan. Untuk itu Balai Taman Nasional Ujung Kulon berencana untuk melakukan survey lebih lanjut. Dan harapan ke depan tidak hanya survey yang dilakukan, namun perlu diiringi pula dengan pemanfaatan Tanaman Nyamplung demi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon.

KEKAYAAN NYAMPLUNG DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Oleh : Aris Budi Pamungkas & Amila Nugraheni

 

Nyamplung……tentu tanaman itu kini tak asing lagi di telinga para rimbawan kehutanan. Buah yang berbentuk bulat ini sekarang mulai dikenal dan dimanfaatkan sebagai penghasil biofuel energy. Kelebihan nyamplung sebagai bahan baku biofuel adalah bijinya mempunyai rendemen yang tinggi, bisa mencapai 74%, dan dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi dengan kepentingan pangan.

Last Updated on Thursday, 20 October 2011 14:57 Read more...
 

Pengumuman Pra Kualifikasi

Wednesday, 07 September 2011 07:49 Admin TNUK
PDF

 

Pengumuman Pra Kualifikasi paket pekerjaan Pengadaan Mesin Tempel KM "Badak Laut" Pada Balai Taman Nasional Ujung Kulon Tahun 2011 Nomor : S.580/IV-T.10/PKK/2011.

Read more...
 

Selamat Idul Fitri

Monday, 29 August 2011 05:12 Admin TNUK
PDF

 

Last Updated on Monday, 29 August 2011 05:14
 

Lembaga Konservasi Desa

Sunday, 28 August 2011 00:35 Admin TNUK
PDF

 

PEMBENTUKAN LEMBAGA KONSERVASI DESA
SEBAGAI UPAYA PENGELOLAAN HUTAN PARTISIPATIF
DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON
Taman Nasional Ujung Kulon sebagai salah satu kawasan konservasi tertua, tak lepas dari beberapa permasalahan terutama yang ditimbulkan oleh masyarakat sekitar kawasan. Dengan posisinya yang dikelilingi 19 (Sembilan belas) desa penyangga membuka peluang yang besar bagi masyarakat sekitar untuk berinteraksi negative dengan kawasan dalam bentuk pengambilan madu, pencurian kayu dan burung, maupun perambahan (pembukaan lahan untuk sawah, kebun/ladang bahkan pemukiman).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pengelola Taman Nasional Ujung Kulon berupaya membangun komunikasi dan memberikan akses bagi masyarakat serta mengakomodir kearifan lokal melalui pengelolaan hutan partisipatif. Pengelolaan Hutan Partisipatif adalah serangkaian upaya terpadu dalam mendayagunakan sumberdaya alam dan sumberdaya masyarakat untuk bersama-sama melindungi, memanfaatkan, melestarikan, memelihara, dan memulihkan fungsi sumberdaya alam. Pengelolaan Hutan Partisipatif tersebut diawali dengan kesepahaman dan kesepakatan pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif.
Dalam mendukung Pengelolaan hutan partisipatif ini dibentuklah sebuah lembaga yaitu Lembaga Konservasi Desa (LKD).  Lembaga Konservasi Desa merupakan Lembaga independen yang dikelola oleh masyarakat dan  memiliki fungsi kelola potensi, sosial dan kemitraan, pengembangan SDM serta fungsi kontrol sumberdaya dan sosial budaya. Prinsip yang dianut Lembaga Konservasi  Desa adalah prinsip keserasian, pendekatan kemitraan, keadilan, pendekatan swadaya, pendekatan kearifan local dan pendekatan kekeluargaan.  Selain masyarakat, pembentukan Lembaga Konservasi Desa ini melibatkan beberapa pihak antara lain pihak pemerintah daerah di tingkat desa maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Lembaga Konservasi Desa telah dibentuk di  beberapa desa penyangga Taman Nasional Ujung Kulon terutama wilayah desa yang berbatasan langsung dengan kawasan yaitu Desa Cibadak, Desa Kertamukti, Desa Rancapinang, Desa Kertajaya, Desa Tamanjaya, Desa Mangkualam, Desa Padasuka.
Melalui Lembaga Konservasi Desa ini diharapkan dapat terbangun kesepahaman dan kesepakatan dalam pengelolaan hutan partisipatif sehingga Visi dan Misi Taman Nasional Ujung Kulon “Ujung Kulon Lestari, Masyarakat sejahtera” dapat terwujud.

PEMBENTUKAN LEMBAGA KONSERVASI DESA

SEBAGAI UPAYA PENGELOLAAN HUTAN PARTISIPATIF

DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

 

 

Taman Nasional Ujung Kulon sebagai salah satu kawasan konservasi tertua, tak lepas dari beberapa permasalahan terutama yang ditimbulkan oleh masyarakat sekitar kawasan. Dengan posisinya yang dikelilingi 19 (Sembilan belas) desa penyangga membuka peluang yang besar bagi masyarakat sekitar untuk berinteraksi negative dengan kawasan dalam bentuk pengambilan madu, pencurian kayu dan burung, maupun perambahan (pembukaan lahan untuk sawah, kebun/ladang bahkan pemukiman).

Last Updated on Monday, 29 August 2011 05:06 Read more...
 

Model Desa Konservasi

Sunday, 28 August 2011 00:29 Admin TNUK
PDF

 

IMPLEMENTASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MELALUI PENGEMBANGAN MODEL DESA KONSERVASI DI DESA TAMANJAYA
Model Desa Konservasi (MDK) merupakan salah satu kebijakan prioritas Departemen Kehutanan berupa  program pembangunan desa model di sekitar kawasan konservasi. Output utama dari program tersebut adalah meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sekaligus mengurangi tekanan terhadap  kawasan konservasi.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Balai Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan mulai mengembangkan Model Desa Konservasi di Desa Tamanjaya. Desa Tamanjaya merupakan salah satu desa di daerah penyangga yang wilayahnya berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Selain karena posisinya yang berdekatan langsung dengan kawasan, desa Tamanjaya ditetapkan menjadi salah satu Model Desa Konservasi adalah karena keragaman sumberdaya alam dan sumber daya manusianya yang telah memberi ruang kepada masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian.
Kegiatan Model Desa Konservasi di Desa Tamanjaya telah dilakukan sejak tahun 2009 dan diperkuat kembali pada tahun 2011. Kegiatan tersebut  diawali dengan inventarisasi dan identifikasi potensi desa dan dilanjutkan dengan pemberian bantuan berupa pelatihan dan pembuatan demplot padi organik. Dengan ditetapkannya Desa Tamanjaya sebagai Model Desa Konservasi diharapkan Desa tersebut dapat menjadi contoh/model bagi desa lain di sekitarnya dalam mengembangkan berbagai kegiatan yang menyangkut pemberdayaan masyarakat dalam aspek konservasi, sosial, ekonomi dan budaya.

IMPLEMENTASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

MELALUI PENGEMBANGAN MODEL DESA KONSERVASI DI DESA TAMANJAYA

 

 

Model Desa Konservasi (MDK) merupakan salah satu kebijakan prioritas Departemen Kehutanan berupa  program pembangunan desa model di sekitar kawasan konservasi. Output utama dari program tersebut adalah meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sekaligus mengurangi tekanan terhadap  kawasan konservasi.

Last Updated on Sunday, 28 August 2011 13:41 Read more...
 


Page 14 of 20
the world heritage
Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

pengiriman_gagal

contact tnuk



Kategori

We have 9 guests online

Pengunjung

501511
Hari IniHari Ini89
KemarinKemarin554
Minggu IniMinggu Ini1729
Bulan IniBulan Ini12943
SemuaSemua501511