Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA)

A. Latar Belakang
Tantangan pengelolaan badak jawa saat ini sangatlah besar.Selain jumlah populasinya yang kecil (±60 ekor), badak jawa menghadapi resiko alamiah berupa penurunan genetik dan demografi; gempa bumi dan tsunami; pengurangan habitat satwa akibat tekanan aktivitas manusia; dan pengaruh perubahan iklim.Selain resiko alamiah terhadap kepunahan populasi badak jawa masih ada ancaman dalam bentuk lain seperti perburuan; persaingan ruang dan pakan dengan banteng; ancaman infeksi parasit dan bakteri yang ditularkan melalui ternak peliharaan;ancaman degradasi habitat karena suksesi hutan menuju klimaks, dan adanya invasi Langkap (Arenga obtusifolia).
Sampai saat ini, keberadaan badak Jawa hanya terkonsentrasi di wilayah Semenanjung Ujung Kulon. Walaupun tahun 2000 dilaporkan bahwa daya jelajah badak Jawa bisa sampai dengan blok erjeruk. Menurut hasil perhitungan jumlah populasi badak Jawa berdasarkan perhitungan jejak menunjukan hanya paling banyak 3 ekor badak Jawa yang mempunyai wilayah jelajah sampai dengan Gunung Honje. Data tersebut menunjukan bahwa tahun 1990 terdapat 1 ekor badak Jawa, tahun 2001 terdapat 3 ekor badak Jawa dan tahun 2007 bahkan tidak ditemukan badak Jawa di wilayah Gunung Honje. Baru tahun 2011 ditemukan kembali sebanyak 2 ekor yang masuk ke wilayah Gunung Honje bagian selatan.
Faktor utama yang menyebabkan terbatasnya habitat yang digunakan oleh badak Jawa di TNUK adalah aktivitas manusia.Di wilayah Gunung Honje terdapat tingkat gangguan manusia terhadap badak Jawa yang tinggi. Hal ini ditunjukan dengan meningkatnya perambahan dimana pada tahun 1990 perambahan hanya seluas sekitar 400 ha sedangkan pada tahun 2008 terdapat 3.436,112 ha, yang didominasi oleh persawahan dan kebun, sebagian kecil digunakan untuk perumahan (24,191 ha). Bahkan perambahan tersebut telah memasuki zona inti menurut zonasi tahun 1997, sebelum review zonasi tahun 2011. Hal ini ditunjukan dengan adanya 51 orang penggarap di daerah aermokla yang telah secara sukarela meninggalkan areal garapannya pada tahun 2010. Aktivitas manusia lainnya yang cukup mengganggu pergerakan badak Jawa adalah perburuan satwa lainnya, pengambilan hasil hutan non kayu, dan bahkan perburuan badak Jawa (walaupun 10 tahun terakhir tidak terdapat perburuan badak Jawa di TNUK).
Untuk menyelamatkan badak jawa dari berbagai ancaman yang sangat serius ini maka pemerintah telah menetapkan beberapa langkah besar, yaitu:
a. Berdasarkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak di Indonesia tahun 2007-2017 yaitu diperlukan populasi kedua pada habitat baru dan untuk mewujudkan hal tersebut dinyatakan bahwa pada tahun 2015, pengelolaan badak jawa harus sudah memiliki satu buah sanctuary sebagai langkah awal pembentukan habitat kedua selain di kawasan TNUK.
b. pertemuan AsRSG pada tanggal 2-3 Maret 2009 yang merupakan pertemuan menindaklanjuti startegi dan rencana aksi di atas, merekomendasikan:
1. Pembuatan suaka khusus/Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA atau JaRhiSCA) merupakan langkah awal untuk mengembangkan habitat kedua bagi Badak Jawa.
2. Memanfaatkan suaka tersebut sebagai tempat memperdalam pengetahuan tentang badak jawa, tentang biologi dasar dan untuk mengidentifikasi cara paling aman dalam pemelilharaan dan pemindahan / translokasi Badak Jawa.
3. Mengupayakan migrasi badak jawa ke dalam suaka tersebut secara alami dan sesuai strategi atau proses seleksi individu yang dikembangkan.
c. Pada tanggal 21 Juni 2010, Gubernur Banten bersama dengan Menteri Kehutanan telah melakukan launching pelaksanaan pembangunan JRSCA di Pulau Peucang TNUK.
Untuk mewujudkan sebuah areal studi dan konservasi badak jawa ini (JRSCA) yang merupakan
penambahan luas habitat insitu badak jawa dan yang terbebas dari penyakit yang dibawa oleh hewan vector dari luar kawasan seperti kerbau, kambing dan lain sebagainya serta terbebas dari gangguan manusia maka areal ini akan dipagar pada bagian yang tidak berbatasan dengan laut. Jenis pagar yang akan dibangun berupa pagar kawat listrik yang mempunyai daya kejut tetapi tidak mematikan.
B. Tujuan dan sasaran
Tujuan :
Menyediakan habitat badak Jawa yang lebih luas dan lebih baik, yang aman dari gangguan manusia dan hewan ternak sehingga apabila badak jawa sudah berada di dalam kawasan JRSCA dapat berkembang dengan baik dan dapat dilakukan penelitian lebih komprehensif tentang bioekologi dan perilaku serta dapat dijadikan sebagai calon badak Jawa untuk translokasi ke habitat kedua. Selain itu juga merupakan ruang pamer bagi publik dengan tujuan wisata khusus.
Sasaran :
Tersedianya luasan habitat badak Jawa yang lebih baik dan aman dari gangguan aktivitas manusia dan hewan ternak di wilayah Gunung Honje bagian selatan Taman Nasional Ujung Kulon
C. Lokasi JRSCA
Berdasarkan report on Second Habitat Assessment for Javan Rhinoceros (Rhinoceros sondaicus sondaicus) within the Java Island (Ramono, W. et all, 2009), lokasi yang sesuai dengan pembuatan sanctuary atau JaRhiSCA
adalah wilayah Gunung Honje Selatan Taman Nasional Ujung Kulon termasuk Legon Pakis, Cihujan, Cikarang, Cikalejetan, Ranca Gebang, Cimahi, ermokla sampai Tanjung Sodong seluas kurang lebih 3.900 ha.
Secara geografis lokasi JRSCA berada pada koordinat 06o48’47,7 LU-06o52’16,1” LS dan 105o32’31,9” BT sampai 105o27’15,9” BB, dengan batas administrasi, sebelah Utara berbatasan dengan Blok Kampung Legon Pakis yang memang berada dalam kawasan, Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, Timur berbatasan dengan desa Ujung Jaya dan Kawasan Gunung Honje TNUK, sebelah Barat berbatasan dengan hutan blok Laban - Karang Ranjang.
D. Pelaksana, sumber biaya dan target
1. Pelaksana pembangunan JaRhiSCA
Pelaksana kegiatan ini adalah kerjasama antara Balai Taman Nasional Ujung Kulon bekerjasama dengan YABI dengan sumber dana dari International Rhino Foundation. Seluruh kegiatan pembangunan harus diselesaikan pada akhir bulan Oktober 2011.
2. Susunan organisasi pelaksana kegiatan ini (SK Kepala Balai TN. Ujung Kulon nomor: SK.32/Kpts/IV-T.10/Peg/2010 tanggal 1 Nopember 2010) adalah sebagai berikut :
Dewan penasehat :
- Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam
- Gubernur Banten
- Bupati Pandeglang
- Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati
Koordinator Proyek :
- Ir. Agus Priambudi, M.Sc
- Drs. Widodo S. Ramono, MM
Manajer Opersional :
- Ir. M. Waladi Isnan
Asisten Manajer Operasional :
- Dodi Sumardi, S.Hut, MT, MPP
Keuangan dan Administrasi :
- drh. Kurnia Oktavia Khairani
Supervisi Pembangunan Pagar :
- Sumadi Hasmaran
Koordinator Lapangan Sosialisasi :
- PM
Koordinator lapangan Pembinaan Habitat :
- Rusdiyanto, S.Hut
Koordinator Lapangan Pembangunan Pagar :
- Indra K. Harwanto, S.Hut, MA
E. Kegiatan
1. Sosialisasi
Identifikasi penggarap liar yang berada di dalam kawasan JRSCA telah dilakukan yang merupakan hasil kerjasama Balai TNUK, TIM RPU dan tim JRSCA. Kegiatan ini telah dilakukan semenjak tahun 2008. Proses pengosongan areal yang akan dijadikan areal perluasan habitat badak Jawa dilakukan dengan sangat hati-hati dan diharapkan tidak menimbulkan dampak yang negatif. Setelah identifikasi proses negosiasi dilakukan untuk mencari bentuk yang sama-sama dapat disepakati bersama. Pada Bulan 6 Juni 2010, sebanyak 51 orang penggarap yang berada di blok
Aermokla telah bersedia meninggalkan lokasi garapannya. Berita acara kesediaan meninggalkan areal garapan bermaterei telah di tandatangani oleh masing-masing penggarap yang diketahui oleh Kepala Balai TNUK dan disaksikan oleh Kepala Desa Rancapinang, MUSPIKA Cimanggu dan tokoh masyarakat. Para penggarap diberikan uang kadeudeuh sebesar 1,5 juta rupiah.
Sedangkan untuk penyelesaian penggarap yang berada di blok Legonpakis, selain kegiatan
sosialisasi dari kampung ke kampung juga dilakukan workshop penataan dan pengelolaan Zona Khusus dan Zona Tradisional di Kampung Legon Pakis Desa Ujungjaya. Workshop dilaksanakan di Hotel Kharisma Labuan pada tanggal 21-22 Maret 2011.Kesepakatan lebih detil akhirnya didapatkan dimana terdapat 27 orang penggarap yang harus diberikan uang kadeudeuh sebesar
1,5 juta rupiah dikarenakan mereka tidak mempunyai lahan garapan lainnya diluar kawasan JRSCA. Pada tanggal 20 agustus 2011 telah disepakati bersama bahwa para penggarap bersedia meninggalkan lokasli garapannya. Berita acara kesediaan meninggalkan areal garapan bermaterei telah di tandatangani oleh masing-masing penggarap yang diketahui oleh Kepala Balai TNUK dan disaksikan oleh Kepala Desa Ujungjaya, MUSPIKA Sumur dan tokoh masyarakat.
Kegiatan sosialisasi lain yang telah dilaksanakan yaitu : tanggal 26 juli 2011 di DEKANAT FMIPA UI, Depok telah
dilakukan press conference tentang JRSCA dengan berbagai civitas akademika, LSM dan Wartawan. Kemudian tanggal 16 Agustus 2011 juga telah dilakukan sosialisasi kepada insan press yang diprakarsai oleh Forum Komunikasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI).
Ekspose JRSCA juga telah di lakukan di tingkat Provinsi Banten yang dihadiri berbagai kalangan termasuk kalangan yang merasa tidak sependapat dengan proses pemabangunan JRSCA. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2011 di Ratu Hotel Bidakara Serang, Banten.
Media sosialisasi yang sudah dibuat berupa baliho, spaduk dan leaflet tentang JRSCA. Kegiatan lain bekerjasama dengan Balai TNUK telah dibuat iklan layanan masyarakat tentang JRSCA di Radio Krakatau Labuan, beberapa kali talk show di Radio Krakatau.
Kegiatan lain yang akan dilakukan yaitu pertemuan-pertemuan dengan para pihak lainnya, pemetaan program-program pemberdayaan masyarakat sekitar Taman Nasional Ujung Kulon, serta pengembangan rencana kolaborasi pemberdayaan masyarakat. Sosialisasi pembangunan JRSCA akan terus dilakukan untuk mendapatkan dukungan dari publik dan masyarakat secara umum. Selain itu juga untuk meningkatkan manafaat bagi pembangunan masyarakat sekitar.
2. Pembinaan habitat di areal JRSCA
Pembinaan habitat adalah salah satu program JRSCA. Kegiatan pembinaan habitat meliputi Inventarisasi habitat, Pengelolaan areal langkap, Pengelolaan padang penggembalaan, pembibitan dan Pengkayaan, Pengelolaan sumber air dan kubangan, Pengamanan dan monitoring Badak serta satwa lainnya.
Inventarisasi habitat
Meliputi mapping planning, grid jalur transek dengan 9 transek Utara - Selatan dan 6 transek Timur - Barat di Areal JRSCA, luasan dominasi areal langkap (1.300 Ha) , perluasan areal padang penggembalaan Kalejetan menjadi 6,8 Ha.
Pembuatan jalur transek dilakukan untuk mengakses keseluruhan areal studi.Melalui kegiatan inventarisasi didapatkan informasi mengenai tipe vegetasi yang ada di dalam areal JRSCA.Saat ini telah diketahui 7 tipe vegetasi di areal ini yaitu hutan sekunder tua, hutan sekunder muda, rawa, mangrove, pantai, sawah dan ladang.
Pengelolaan Areal Langkap
Bentuk pengelolaan pembukaan langkap menggunakan metode tebang bersih dan tebang tinggal sebanyak 38 plot
sampel. Keanekaragaman jenis tumbuhan pada metode tebang tinggal lebih tinggi dibanding metode tebang bersih. Hal ini signifikan terjadi karena kegiatan dilaksanakan pada musim kemarau yang panjang ( Juni-Sept 2011) sampai saat monitoring yang mengakibatkan pertumbuhan jenis baru relative lambat dan sedikit, selain itu teknik yang dilakukan pada metode tebang bersih berpengaruh terhadap anakan semai pada saat pembersihan dan pengangkutan batang langkap keluar plot. Tumbuhan yang mendominasi adalah langkap, rotan, dan sigeung.
Pengelolaan Padang Penggembalaan
Pengelolaan areal padang penggembalaan hingga 4 Ha dengan cara ditebas dan digali dari hasil pengukuran luas keseluruhan padang penggembalaan yaitu 6,8 Ha. Kegiatan pengelolaan padang penggembalaan bertujuan untuk mengaktifkan kembali padang penggembalaan Kalajetan sebagai habitat Banteng dengan harapan dapat mengurangi kompetisi ruang dan pakan dengan Badak Jawa di dalam hutan.
Pembibitan dan Pengkayaan
Sejak Juni 2011 Tim JRSCA telah membuat bedeng pembibitan di Pos Jaga Cilintang yang bibitnya berasal dari
hutan.Saat ini koleksi tumbuhan yang ada di dalam bedengan sudah mencapai 17.821 bibit dari 110 jenis tumbuhan yang diketahui sebagai pakan badak. Target dari kegiatan pembibitan yaitu dapat mengkoleksi seluruh tumbuhan pakan badak dan mengkategorikan tumbuhan pakan badak berdasarkan nama dan jenisnya.
Kegiatan pengkayaan diharapkan dapat memenuhi tumbuhan pakan badak yang ada di dalam petak contoh. Kegiatan pengkayaan akan dilakukan ketika masuk musim penghujan. Hal ini dikarenakan agar penyebaran pakan badak yang ada pada tiap petak contoh merata. Dalam pengelolaan rumpang tehnik yang akan digunakan berupa :
o Menanam jenis liana (areuy) disepanjang batas rumpang, diharapkan akan terjadinya pengelolaan rumpang alami dalam perilaku badak dalam menarik dan merobohkan pohon induk yaitu langkap.
o Tehnik pengkayaan dengan memanipulasi jenis pakan dalam hal ini tanaman yang berbuah yang disukai juga oleh Musang harapanya dapat mengurangi tingginya tingkat penyebaran langkap di rumpang tersebut.
o Penanaman jenis pakan yang disuka badak diareal persawahan yang merupakan daerah datar dan baik untuk lokasi badak jawa.
o Pembersihan anakan langkap (birus) secara rutin di setiap rumpang.
Pengelolaan Sumber air dan Kubangan
Berdasarkan hasil dari inventarisasi habitat bahwa dalam areal JRSCA informasi yang didapatkan yaitu: 7 sumber air potensial, 8 sungai, dan 8 lokasi kubangan permanen yang digunakan pada saat musim kemarau.
Dari informasi yang didapat dijadikan bahan untuk merencanakan keberlangsungan air untuk kubangan dengan membuat embung (bendungan) dipertemuan antar sungai dan anak sungai atau seke dan pembersihan disepanjang Daerah Aliran Sungai.
Monitoring Badak dan Banteng
Pada bulan Okober, tim menemukan tanda keberadaan badak berupa kotoran, kubangan dan tapak berukuran 25 – 26 cm dan 24 – 25 cm ditemukan sekitar sungai aermokla dan sumber air Bangkonol. Jejak ditemukan tidak jauh disepanjang aliran sungai dengan berjalan mengikuti jalur transek yang ada di areal JRSCA.Sedangkan jejajak banteng hampir ditemukan didaerah petak contoh langkap yang ditebang.
Estimasi populasi berdasarkan kriteria kualitas air, kubangan, pakan dan gangguan dan hasil temuan jejak dilapangan memperkirakan home range kecil sekitar 8 ekor badak yang tersebar di daerah karang ranjang, seseupan, cilintang, kalejetan, aermokla, Ranca gebang, Kalajetan leutik dan Bangkonol Kegiatan ini akan terus berkembang berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan dan data menunjang kegiatan pengelolaan habitat lainnya diluar wilayah JRSCA diantaranya dengan kegiatan inventarisasi dan informasi individu (jenis kelamin) dalam perencanaan pembuatan koridor dan pengaturan jadwal kunjungan serta patroli di wilayah semenanjung Ujung Kulon untuk menarik individu yang diharapkan.
3. Civil Engineering
Salah satu bagian terpenting dalam pelaksanaan program JRSCA adalah kegiatan civilengineering yang meliputi
kegiatan landclearing untuk jalur patroli, pembangunan pagar beraliran listrik/electric wire fence (EWF), pembangunan basecamp, pembangunan pos jaga, dan pembangunan jembatan. Panjang keseluruhan dari pagar beraliran listrik adalah 20 Km, dengan tinggi tiang pagar 1,6 meter dan lebar jalur 10 meter.
Sampai dengan saat ini telah terbangun satu pos jaga JRSCA di Cilintang danproses pembersihan lahan
untuk jalan patroli telah mencapai 6,2 kmdari Blok Kuta Karang Cilintang sampai disekitar Cikalejetan Leutik.Penggunaan alat berat dalam proses pembersihan lahan yaitu buldozer dan eksavator dengan pengawasan dari tim CE yang terus menerus. Pelaksanaan di mulai tanggal 22 Juni 2011 dan berakhir tanggal 1 Juli 2011 dengan dikeluarkannya surat pneghentian kegiatan untuk mendapatkan kajian lebih lanjut dari Kepala BTNUK.
Jalur dari Blok Kuta Karang Cilintang sampai dengan Blok Rorah Kawung Langkap sejauh 4,2 Km terletak membatasi zona rimba dengan zona tradisional, lahan disepanjang jalur yang dilintasi adalah bekas perladangan/ kebun liar dan sawah, lebar rata-rata jalur kurang lebih 12,5 meter dikarenakan kiri kanan jalur digunakan untuk menimbun tanah dan ranting selebar 1 sampai 2,5 meter. Sedangkan jalur land clearing dari Blok Rorah Kawung Langkap sampai dengan Blok Cikalejetan Leutik sejauh 2 Km, didominasi hutan sekunder dan masuk dalam zona rimba, lebar jalur didaerah tersebut rata-rata 8 meter. Jumlah tegakan yang terkena dampak land clearing yaitu sekitar 241 pohon dari 45 jenis (diameter berkisar antar 20-60 cm). Terdapat pelurusan jalur dan penimbunan jalan di KM 3,4 karena terdapat jurang curam sehingga terdapat jalur selebar sekitar 30 meter sepanjang 100 meter.


F. Rencana Operasional JaRhiSCA
Saat ini sedang dilakukan penyempurnaan master plan yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. E. K. S. Harini Muntasib, MSc. Penyempurnaan ini dilakukan untuk lebih memperkuat perencanaan pembangunan, pengelolaan dan monitoring serta evaluasi JRSCA. Diharapkan system dan mekanisme pengelolaan, desain tapak, keterlibatan para pihak, dan keberlanjutan pendanaan menjadi lebih baik.Peran Balai TNUK untuk menjadi conductor program menjadi lebih dominan demi kelancaran program JRSCA ini.
Secara garis besar rencana operasional JaRhiSCA terbagi ke dalam tiga program besar yaitu:
1. Program Pengelolaan dan pemeliharaan Pagar
Program Kegiatan ini merupakan kegiatan dasar dalam mengelola dan memelihara operasional pagar listrik. Kegiatan yang direncanakan berada dalam program ini adalah tim patroli pagar, tim teknisi kelistrikan, dan administrasi dan perkantoran.
2. Program Pendidikan dan Penelitian.
Target utama dalam program ini adalah diketahuinya sistem reproduksi Badak Jawa untuk mencapai peningkatan populasi badak jawa dan tersedianya protocol pemindahan badak jawa ke habitat baru. Selain itu, kebutuhan penelitian di dalam areal JaRhiSCA akan dibuat secara komprehensif sehingga penelitian-penelitian lain dapat dilakukan berbagai pihak baik dari dalam negeri dan luar negeri untuk mendukung konservasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.
3. Divisi Ekoturisme
Divisi ini merupakan divisi pengembangan pemanfaatan keberadaan JaRhiSCA bagi kesejahteraan masyarakat sekitar dengan program utama ekoturisme. Konsep ekoturisme ini merupakan dasar pengembangan pemberdayaan masyarakat dimana diharapkan multiplier effect nya dapat dirasakan secara langsung, berkelanjutan dan sinergi dengan program konservasi Badak Jawa. Kegiatan yang berada di dalam program divisi ini adalah interpretasi, interpreter, guide local, pengembangan kerjasama fasilitas penginapan dan sarana wisata lainnya.